Entah komposisinya sdh pas atau belum. Belum pernah belajar merangkai bunga..ā˜ŗ

Tapi senang, bunga hasil kebun sendiri, bisa dinikmati banyak orang..hehehe.. – with yulnisa and ayoe

View on Path

Produk baru nih..šŸ˜
Dipesen yuk..šŸ˜Šā˜ŗ

#jualan #dagang #kaos #travelerwear – with Eko Prasetyo

View on Path

Secangkir Kopi Pagi Untukmu

Ā 
Tak ada secangkir kopi pagi untukmu.
Tak ada ruang untukku memaksamu membuka mata di penghujung mimpimu.
Hanya ada meja, rak buku, kayu, bata-bata merah yang tersusun menjadi dinding, sarang laba-laba, lumut, asap rokok, debu, dingin, sunyi.
Ā 
Masih terngiang suaramu, sebentuk perlawanan pada batu.
Lantas kita berdiskusi dengan seru. Tentang sajak langit, bintang, bulan.
Tentang segunung kebingungan dan kegelisahan.
Tentang seekor pipit yang mencari pasangan.
Tentang gempuran ombak cemas mencapai pantai yang kau janjikan padaku.
Tentang tautan batin. Tentang celoteh riang asa. Tentang kita.
Ā 
Malam itu aku sedikit asing. Merasa dinding-dinding di ruang semakin meninggi.
Menjauhkan detak jantungmu dengan detak jantungku.
Hatiku sakit terbentur pintu. Di luar jendela, langit begitu kering, cuaca meranggas.
Ā 
Tak ada secangkir kopi pagi untukmu.
Tak ada jiwa. Hanya takut, pahit.
Menggumpal membentuk awan. Hujan.
Lalu menjadi sesuatu yang akan membunuhku.
Atau menguatkanku jika kutemukan semut hitam di atas batu saat malam kelam.
Ā 
Tak ada secangkir kopi pagi untukmu.
Hanya aku yang berdiri, lalu terduduk, terpekur.
Membuka kembali surat-surat cinta yang pernah aku terima.
Melantunkan sebait mantra.
Berdamai dengan waktu mencari seberkas sinar berkilau, yang tidak semua mata mampu melihatnya.
Ā 
Disini, di ruang yang sunyi ini, di ambang pintu aku menatap langit bersama secangkir kopi.
Bulan, bintang.. aku ingin kembalikan semua yang tak kumiliki.
Ā 
Ā 
Ā 
Ā 6 Juli 2014
Paradisca Apoda

Untukmu, sebuah ingin:

Ā 
Bayangmu akan menyapaku sunyi malam ini
Membawakan sajak rindu yang selalu aku tulis dalam kalutku untukmu
Suaramu menyukma, mendokma dalam akal dan hatiku
Meluluhlantahkan hatimu sebab ketidaktahuanku dan keras kepalaku
Ā 
Ini rindu
Ini rindu yang puncak
Aku tak butuh pelangi dengan warnanya yang sering menipuku
Aku tak butuh bintang dengan cahayanya yang membohongiku
Atau gerhana dengan fenomenanya yang sering menakutkanku
Ā 
Aku menunggumu
Aku menunggumu dalam sunyi yang sama
Aku menunggumu dalam setiap pinta
Membisikkan namamu kala menghamba
Ā 
Namun, bahagiamu di atas inginku
Mencintaimu dengan benar
Lalu menjagamu
Menyisakan sepenggal kisah
Hanya pada sebuah ingin
Ā 
Ā 
Ā 
19/06/14
Paradisca apoda

Kang ingaran urip mono
Mung jumbuhing badan wadag lan batine
Pepindhane wadhah lan isine

Jenenge wadhah yen tanpa isi, alah dene arane wadhah, tanpa tanja tan ana pigunane

Semono ugo isi tanpa wadhah, yekti barang mokal.

Tumrap urip kan utama, tertamtu ambutuhake wadhah lan isi, kang utama karo-karone..

(Serat Dewa Ruci)

View on Path

Malam
Aku merindumu

Merindu sunyimu memelukku
Merindumu membiarkan mataku terpejam dalam gelapmu
Merindumu menghapus penat dan lelahku
Merindumu menemaniku menggapai mimpi dalam hening malammu
Merindumu mengantarkanku menemui kekasihku

Malam
Aku merindumu

View on Path