“Sudah..sudah..
Cukup..
Sudah kataku!
Cukup!”

Lalu kau pergi

Manusiawi
Mungkin kau lelah
Mungkin kau hanya tidak tahu
Bahwa aku telah mengikutimu
Bahwa aku telah memenuhi panggilanmu

Mungkin kau hanya tidak tahu
Lalu kau pergi

View on Path

Iklan
Ditulis dalam Uncategorized

Pemahaman tentang Kanker Serviks di Indonesia

Pemahaman tentang Kanker Serviks di Indonesia.

Ditulis dalam FYI

Aku Ini Lacur

 

Engkau mentari yang menyingkap kabut dan menciumku mesra pagi ini

Memberi kesegaran pada kutikulaku yang tak mampu ditembus oleh embun

Lalu kau rangsang hara dalam tanahku dengan hangat sinarmu

Memaksanya melewati lorong panjang yang akan menguat seiring berjalannya waktu

 

Dan kitapun bersimbiosis dalam hijauku

Menikmati bara asmara yang akan menghasilkan energi baru dan membuang racun yang tak seharusnya ada

Sebelum mendung menghalangi terangmu

Ah.. aku memang lacur!

 

Aku ini lacur

Berada di dasar jurang yang gelap yang tidak setiap saat bisa menerima terangmu

Bertahan dengan sisa energi dalam daunku, batangku, akarku

Berusaha mencari terang agar aku bisa terus tumbuh melihat dunia indah di atas sana

 

Aku ini memang lacur

Berpisah denganmu di tengah simbiosis yang masih membara ketika hari belum lagi tinggi

Aku ini lacur

Ketika kaupun tak mau lagi menyapaku meskipun aku telah meminta angin untuk mengusir mendung itu

Aku ini lacur

Membayangkanmu terus meninggi memberikan terangmu pada dunia di atas sana

Sedang aku masih harus meraba dalam kegelapan ini

Mencari terang agar aku bisa terus bertahan

 

Masih terasa hangat cium dan pelukmu pagi tadi

Membekas menyisakan hitam dan lacur

 

 

Paradisca Apoda

060414

Ditulis dalam puisi

Aku dan Angin

 

Dia yang kucinta telah mengajariku cara memanggilmu

 

Kini…aku mulai bersiul memanggilmu

Memaksamu bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan yang lebih rendah di sini

 

Aku menunggumu

Aku menunggu hembusanmu

Menunggumu membawa kicauku

Menunggumu membawa kisahku

Menunggumu menari bersama daun pohonku

Menunggumu mengiringi gepakanku, mengitari gunung yang tinggi menjulang dalam diriku

Melanjutkan tugasku mewarnai bumi

Menemukan jalan lain untuk melukis cintaku

 

Tapi ini malam!

Ini malam yang dingin dan kelam

Dan tak seharusnya aku berkicau di malam sedingin dan sekelam ini

 

Aku memilih menyembunyikan wajahku di bawah sayap lemahku

Mencari kehangatan di sela dingin yang merasuk tulang

Kubiarkan beberapa helai bulu rapuhku jatuh

Kubiarkan pula awan hitam yang mulai menggumpal

 

Engkaupun datang

Lalu aku bertanya kepadamu,

Sanggupkah aku berkicau menyambut pagi?

Sanggupkah aku mencerahkan langit?

Sanggupkah aku mengepakkan sayapku mengitari gunung yang menjulang tinggi?

Sanggupkah aku melukis wajah atau bahkan bertemu Kekasihku?

 

Dan seperti biasa, engkau menjawab dengan buaian lembutmu yang semakin membuat aku kedinginan

Kau berbisik, memintaku melihat langit

Lalu aku menengadah, terdiam menikmati belaianmu

Sejenak kuterhenyak..

Kulihat kejora datang menyusulmu

Kau sapu mendung langitku, kau ganti dengan ribuan bintang di atas sana

Membuatku terdiam, menghirup nafas dalam lalu terpejam mengucap doa:

Sanggupkan aku dalam ketidakmampuanku

Kuatkan aku dalam kelemahanku

Sabarkan aku dalam nafsu dan inginku

Esok, aku memilih melanjutkan tugasku mewarnai bumi

Melukis Kekasih hatiku

Bertemu Cintaku

 

 

Paradisca Apoda

060414

 

Ditulis dalam puisi

Orang Ketiga

 
Ini adalah kisah kita; aku dan kamu.

Tiba-tiba dia datang. Dia, yang oleh mereka disebut orang ketiga.

Dia, berada setelah aku dan kamu sehingga disebut dia. Aku, kamu, dia.

Tetapi ketika dia berada diantara aku dan kamu, mungkin dia akan menjadi kambing hitam, bukan lagi dia.
Ketika dia berada diantara aku dan kamu, mungkin dia akan menjadi orang yang sangat dipersalahkan entah oleh aku, kamu, atau mereka.

Padahal, jika dia berada diantara aku dan kamu, dia bukan lagi orang ketiga: aku-dia-kamu. Dia bergeser menjadi orang kedua, entah bagi aku atau kamu.

Tetapi mungkin karena pergeseran itu, dia tetaplah dia, yang oleh mereka disebut orang ketiga.

Di manapun posisinya, mereka hanya melihat aku dan kamu sehingga dia tetap saja dia, orang ketiga.

Kecuali aku atau kamu mau bertukar posisi dengan dia. Mereka akan mengenal dia menjadi aku atau kamu. Dan aku atau kamu yang akan menyandang predikat sebagai orang ketiga, dia.

Sungguh membingungkan!!

Jadi, biarkan saja tetap berada pada posisi semula; aku-kamu-dia.

Tetap ada aku, ada kamu dan ada dia; kami! Biarkan mereka tetap menganggap dia sebagai orang ketiga karena memang seperti itu seharusnya.

Toh masih ada kita; aku dan kamu saja.

 
 
Paradisca Apoda
Ditulis dalam puisi

Dioksin dan pembalut wanita?

Yuk..Cermati lagi..:)

Zullies Ikawati's Weblog

Dear kawan,

Pernah beredar rumor lama bahwa pembalut wanita itu mengandung dioksin yang berbahaya bagi kesehatan dan dikaitkan dengan kejadian kanker servix. Sehingga ini menjadi bahan promosi bagi beberapa merk pembalut wanita, yang menyebut dirinya “bebas dioksin”…. Well, tulisan ini adalah request dari beberapa kawan…. sudah lama sih, tapi baru sempat menuliskannya sekarang…

Rumor tentang dioksin pada pembalut wanita sebenarnya sudah beredar cukup lama, mungkin bahkan sekitar 10 tahun yang lalu melalui internet. Hal ini cukup meresahkan masyarakat, karena tidak hanya pembalut wanita, diaper yang merupakan popok bayi sekali pakai,  juga disebut-sebut mengandung dioksin yang berbahaya.

Ketika mencoba searching mengenai dioksin pada pembalut, aku terdampar dalam belantara informasi yang sangat beraneka-rupa, termasuk iklan-iklan pembalut wanita. Waduuh….. susah sekali ternyata mencari informasi yang obyektif, valid, dan berimbang serta cukup komplit. Tak urung FDA (Food and Drug Administration), semacam Badan POM-nya Amerika turut sibuk memberikan penjelasan. Informasinya bisa dilihat di sini :

 http://www.fda.gov/MedicalDevices/Safety/AlertsandNotices/PatientAlerts/ucm070003.htm

Lihat pos aslinya 2.678 kata lagi

Ditulis dalam FYI

Angin 3

“Seandainya aku bukan…
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,
Menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pubdak bukit itu.
“Seandainya aku…”
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.
“Seandainya…
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku

Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982
Sapardi Djoko Damono

View on Path

Ditulis dalam FYI
Barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang makan Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat (H.R Muslim)
pengingat hari
November 2017
S S R K J S M
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Yang diomongin..

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

makasih uda mampir..
  • 45,233 hits